Contact Person 5373710c
Klik Fb

Teh Pekoe Super

Adalah teh yang diproses dengan menggunakan Metode Non Fermentasi dihasilkan dari pucuk pekoe yaitu Tanaman teh yang sudah berusia ratusan tahun, TERBUKTI mengandung banyak senyawa Bio Aktif yang diperlukan oleh tubuh kita

Air Terjun Parang Ijo

Air terjun ini berjarak tempuh sekitar 20 menit dari komplek wisata candi Cetho. Bagi Anda yang kerap bergelut dengan kesibukan aktivitas kerja, tentu akan merasa jenuh. Tempat wisata ini cocok untuk anda

Peternakan Semut Rang Rang Taruna Tani

Kroto merupakan makanan utama bagi burung yang gemar berkicau, seperti kacer, murai, prenjak dan lain lain, oleh karena itu didesa kami ada peternakan dan pengembangbiakan semut rang rang, silahkan dilihat..

Sayuran Organik Yang Segar Dan Menyehatkan

... ^_^...

Keindahan Alam Kabupaten Karanganyar

Memang daerah saya sebagian besar adalah pedesaan namun pemandangan di daerah sini gak kalah cantiknya dengan daerah lain, Monggo difollow Instagram saya

Kata Kata Motivasi Andrie Wongso

Tekad merupakan sumber motivasi bagi kemajuan dan kesuksesan! Mereka yang memiliki tekad yang kuat, Dia bisa menciptakan apa yang TIDAK MUNGKIN menjadi MUNGKIN! -Andrie Wongso

Showing posts with label Karanganyar. Show all posts
Showing posts with label Karanganyar. Show all posts

Monday, October 3, 2016

Puasa Sunah Arafah

Puasa Sunah  Arafah, Puasa Satu Hari Sebelum menyembelih hewan kurban atau Idhul Adha



Puasa yang pahalanya tak kalah dengan puasa ramadhan adalah puasa tanggal 9 dzulhijjah, atau dinamakan puasa arofah, yaitu puasa yang dilaksanakan 1 hari sebelum penyembelihan hewan kurban, waktu dimana orang-orang yang melakasanakan haji sedang melaksanakan wukuf diarofah, pahalanya orang yang wukuf diarofah yaitu diberikan pengampunan dosa walaupun sebanyak rintikan hujan atau sebanyak hitungan hari didunia, untuk itu dianjurkan berpuasa dihari arofah, pahala yang Allah berikan tidak kalah dengan wukuf di Arofah.

Perhatikan dalil berikut :

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Nabi Muhammad SAW bersabda : Puasa satu hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya. Puasa hari ‘Asyura’ (tanggal 10 Muharram), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya.” (HR. Muslim 1162)

Untuk itu sangat disayangkan jika dilewatkan begitu saja, padahal kalau dihitung-hitung sudah berapa banyak dosa kita dalam setahun, atau bisa diibaratkan dengan banyaknya pasir dilautan, rintikan hujan atau sebanyak buih dilautan.? semua dosa dalam setahun itu hilang dengan puasa sehari saja, tentunya tidak untuk dosa dosa Had (dosa besar). Semoga kita diberi kesempatan oleh Allah SWT bisa melaksanakan ibadah dengan lancar dan barokah, aamiin.

Puasa Sunah Hari Asyura

Puasa Sunah Hari Asyura



 Asyura adalah hari ke sepuluh bulan Muharam dalam kalender Islam. Hari Asyura sebenarnya hari perayaan kaum Yahudi sebagai rasa syukur atas kemenangan Nabi Musa dan kaum Bani Israil atas musuh mereka, Raja Firaun. Ketika hijrah di Madinah Nabi Muhammad s.a.w. memerintahkan umatnya untuk berpuasa satu hari pada hari Asyura karena kaum Muslimin lebih dekat dengan Nabi Musa. Setelah Allah menurunkan perintah puasa Ramadhan maka puasa asyura menjadi sunah. Untuk membedakan dengan kaum yahudi maka Nabi juga menyarankan kaum Muslimin untuk berpuasa satu hari sebelum hari Asyura yaitu 9 Muharam. Jadi puasa Asyura bisa dilaksanakan tanggal 9 atau tanggal 10 atau kedua-duanya.
Berbeda dengan kaum Yahudi yang berpuasa pada hari Asyura sebagai peringatan / perayaan namun umat Islam berpuasa Asyura adalah untuk mengharapkan ampunan dari Allah subhanahu wata’aala, sebagaimana tertulis dalam hadist Termizi No. 752 Kitabu Shiam.

3397 – حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، حَدَّثَنَا أَيُّوبُ السَّخْتِيَانِيُّ، عَنِ ابْنِ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ، وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا، يَعْنِي عَاشُورَاءَ، فَقَالُوا: هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ، وَهُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى، وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ، فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ، فَقَالَ «أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ» فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

… Ibni Abas meriwayatkan: Sesungguhnya Nabi s.a.w., ketika tiba di Madinah beliau menjumpai orang-orang Yahudi berpuasa satu hari, yaitu hari asyura, mereka mengatakan: Ini adalah hari raya, hari asyura ini adalah hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa, dan menenggelamkan Firaun, maka Musa berpuasa sebagai tanda syukur kepada Allah, Maka Nabi bersabda: Kita lebih dekat dengan Nabi Musa dari pada mereka (Yahudi). Maka Nabi berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan berpuasa pada hari Asyura”.
[Hadist Shohih Bukhari No. 3397 Kitabu Ahadisu Ambiya’]

752 – حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، وَأَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ، قَالَا: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ غَيْلَانَ بْنِ جَرِيرٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْبَدٍ، عَنْ أَبِي قَتَادَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ»

… sesungguhnya Nabi s.a.w. bersabda: “Puasa pada hari Asyura, sesungguhnya saya berharap kepada Allah agar mengampuni (dosa-dosa) satu tahun yang telah lewat”.
[Hadist Sunan Termizi No. 752 Abwabushiam]

بَابُ صِيَامِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ
2001 – حَدَّثَنَا أَبُو اليَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ، أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ»
… Aisyah r.a. meriwayatkan: “Ada Rasulullah s.a.w. memerintahkan untuk puasa pada hari Asyura, maka ketika diwajibkan puasa Ramadhan maka ada siapa yang menghendaki berpuasalah dan silakan siapa yang menghendaki tidak puasa”.
[Hadist Shohih Bukhari No. 2001Kitabu Shiam]

755 -… وَرُوِيَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ: «صُومُوا التَّاسِعَ وَالعَاشِرَ وَخَالِفُوا اليَهُودَ»
… dan diriwayatkan dari Ibni Abas sesungghnya Nabi bersabda: “Puasalah pada tanggal sembilan dan sepuluh dan selisihilah orang Yahudi”.
[Hadist Sunan Termizi No. 755 Abwabushiam]

134 – (1134) وحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَأَبُو كُرَيْبٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ، عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ عَبَّاسٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَيْرٍ، – لَعَلَّهُ قَالَ: – عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ» وَفِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ: قَالَ: يَعْنِي يَوْمَ عَاشُورَاءَ
… Abdillah bin Abas r.a. meriwayatkan: Rasulullah s.a.w.bersabda: “Seandainya saya masih hidup sampai tahun depan, maka saya akan berpuasa pada tanggal 9 dan dalam riwayat Abu Bakar: mengatakan: “Yakni hari ‘Asyura”.
[Hadist Shohih Muslim No 134 –(1134) Kitabushiam]

Sumber: Alhadist Kutubussittah dan berbagai sumber yang soheh

Saturday, October 1, 2016

Cerita Mukidi Part 1

Salam sehat sejahtera pembaca setia blogku, semoga allah selalu memberikan kesehatan, kewarasan, kelonggaran, rezeki yang banyak, halal dan barokah, aamiiin. Sudah lama mimin gak posting kata kata atau cerita, nah kali ini mimin mau posting sedikit cerita tentang "MUKIDI", yah, bermula dari hanya sekedar menulis humor, Bapak Soetantyo Moechlas terkenal mendadak, hehe, OK  mungkin sudah terlambat, tapi gak apa apalah, untuk hiburan aja... monggo dibaca




MUKIDI DAN KODOK
“Mas tadi waktu bukber pada cekikikan ngomongin kodok apaan sih?” tanya Markonah.
“Dulu sekali, aku, Wakijan, Samingan sowan ke mbah Joyongablak nanyain masalah jodoh,”
jawab Mukidi: “Waktu kami pulang, mbah Joyo berpesan: ‘Ati-ati jangan sampai nginjek kodok.’ Celakanya walaupun sudah berhati-hati, Wakijan nginjek kodok. Gak lama, Samingan juga nginjek kodok. Cuman aku yang selamat sampai rumah tanpa nginjek kodok.”
“Memang kalau nginjek kodok kenapa?”
“Yah tadinya mereka berdua cemas, tapi lama-lama kata-kata mbah Joyo dianggap cuma takhayul. Eh 5 tahun kemudian setelah mereka kawin bininya jelek-jelek, bawel. Rupanya gara-gara nginjek kodok, kata-kata simbah terbukti.
Kamu percaya gak Nah?”
“Percaya sih mas, aku dulu juga nginjek kodok….”


MUKIDI NONTON BIOSKOP
Jam 8 isuk ning kantor bioskop.
"kriiiiing....." telpon nang meja bioskop 21 muni...!!!!!
Mukidi : ‘Halloow mas.... aku arep takon bioskop bukak jam pira....? “
Penjaga : ‘jam siji mas.’
Mukidi : Bisa buka jam songo ora mas ??
Penjaga : ‘ Ora bisa...... biasa jam siji bukake.’
Jam 11 telpon muni maneh......
Mukidi : Halloow..... Jam pira bukake bioskop?????
Penjaga : “sampeyan sing nelpon mau ya mas??? Lak wis dikandani.. bukake jam 1”
Mukidi :” jam rolas ora bisa ta mas??????
Penjaga : "Ora bisa!!!!.... bioskope mbahmu pa!! “
Mukidi : “Ngenyang sitik wae mas... gak apa2 wis setengah siji wae ya......????? "
Penjaga : (dongkol atine )...."sakjane sampeyan arep nonton pilem apa toh.....kok telpon terus terusan.. ??"
Mukidi : (karo nangis ) “ aku iki kekunci nang njero bioskop mas..... mau bengi pas nonton pilem keturon.... tulungana ta mas..... bukakke lawange.... aku pingin mulih..”



MUKIDI KUMAT
Mukidi nelpon kancane sing jenenge Parto, nanging ora diangkat-angkat.
Dadine Mukidi trus sms wae.
Sms sepisan:
To, kowe neng ndi?
(Ora ono balesan)
Sms kaping pindo:
To, kok ora dibales?
(Yo ora ono balesan)
Sms kaping telu:
Parto, kowe nesu yo karo aku ?
(tetep ora ono balesan)
Sms kaping papat:
Mas Parto, yen kowe nesu,, ngomongo karo aku... !!
Mosok soko esuk aku telp ora mbok angkat? Aku sms ora mbok bales?
Aku mung arep ngomong.., HPmu keri neng omahku mau bengi. Wis ngono HP mu kui muni terus ket mau. Koyo wong penting wae kowe kui..!!!



ROKOK MUKIDI
Di suatu jalan yg ramai di pinggir kota Sampang, Mukidi melaju dgn motornya tanpa hiraukan rambu2 lalin karna takut terlambat.
Polantas: "Stopppp!"
Mukidi: "Kok disetop kenapa Pak?"
Polisi: " Anda melanggar rambu2 lalulintas! Tolong keluarkan SIM, STNK dan KTP nya!"
Mukidi keluarkan jurus berkelit : "Maaf pak saya tidak punya, saya masih anak sekolah Pak..."
Polisi: "Kalau begitu motor saya tahan, dan Saudara saya tilang, siapkan uang Rp. 500.000,- untuk disetor ke BRI"
Mukidi coba berkelit lagi: "Tolong pak, kan saya anak sekolah, jadi nggak banyak punya uang, kita damai saja ya pak?..."
Polisi: "Memangnya kamu punya uang berapa buat damai....?"
Mukidi: "Saya lihat Bapak tadi merokok, bgmana saya belikan saja rokok di warung seberang jalan itu..."
Polisi: " Ya sudah... beliin Marlboro ya, tapi motornya tetap disini."
Mukidi langsung nyebrang jalan menuju warung, "Bang... saya disuruh ngambil rokok dulu sama pak polisi itu (sambil menunjuk Pak Polisi di seberang jalan).
Marlboro 4 bungkus!"
Tk.Warung: "Polisi yang mana...? Awas, Jangan coba2 menipu saya!!."
Mukidi: "Yang itu! kemudian dia berteriak: "Pak, pak.. rokok yang ini 'kan?" Sambil tunjukkan rokok Marlboro.
Polisi: "Yaaa siiippp...!"
Mukidi: "Tuh 'kan... Nanti dia yang akan bayar...!" Sambil nyeberang jalan bawa 4 bungkus rokok!
Rokok yg 2 dia kantongi, yg 2 diserahkan: "Nih Pak, dua bungkus!."
Polisi: "Hmm... , baiklah, Lain kali hati-hati ya!"
Mukidi : "Trims Pak...!", terus tancap gas wuzz!
Dua jam kemudian...
Tk.Warung mendatangi pos polisi: "Pak, suruhan bapak tadi kan ngambil rokok Marlboro 4 bungkus, katanya bapak yang bayar."
Polisi: "Haaahh!! Bedes sialan! Polisi pun berani juga dia tipu...!!!"



MUKIDI DAN CELANA DALAM
Di pasar seorang ibu ingin membeli celana dalam utk suaminya bertanya pada pedagang Mukidi.
Mukidi dgn semangat menawarkan dagangannya ..
Mari bu, dipilih dipilih, Ada merk *HINGS*
(Hebat, Ideal, Namun Gemar Selingkuh…)
Ibu : (hanya tersenyum manis menanggapi perkataan si Pedagang).
Mukidi : Ada juga nih merk *SWAN* ( Suka Wanita Nakal…”)
Ibu: (makin tersipu malu menanggapi perkataan si Pedagang).
Mukidi: Ada lagi merk *GT-MAN* (Goyangannya Tentu Mantap!!!”)
Lantaran gak tahan lagi, maka akhirnya si Ibu pun menyahut: Saya cari *RIDER* saja bang.......
*Rodo Ireng Dowo Enak Rasane*
#mukidi kena batu, kena rider


CARA RUKUN VERSI MUKIDI
Seorang dokter yg sering berantem sama istrinya bingung, kenapa istrinya marah2 mlulu.
Serba salah dibaikin marah, dibecandain marah, apalagi dimarahin.... ngamuk dehhh....
Pak dokter iri lihat supirnya ...si Mukidi rukun bgt dan mesra sama istrinya,
Sekali wkt dia curhat sama si Mukidi...
Dokter : "Di...kamu rukun banget sama istrimu....gak kayak saya...kamu lihat ndiri gak ada hari yg gak ribut kami....apa sih rahasianya...".
Mukidi:...."Kami sih biasa2 aja Pak Dokter.....hanya saja sy sering membuat kejutan2 kecil ......"
Dokter : "Kejutan kecil gimana.....?"
Mukidi : "Seperti tiba2 kita pukul pantatnya dari belakang....secara diam2..."
Hari itu pak dokter sengaja pulang lebih awal....sampai rmh ternyata istrinya lagi masak di dapur....
Sambil diam2 Pak Dokter masuk dapur dan memukul pantat istrinya dari belakang.
Tanpa menoleh ke belakang bu dokter teriak : "Mukidiiiiiiiiiiii... nakal kamu yahhh..."



KISAH BAKUL JAMU
Wanita Penjual Jamu Keliling yang sangat Sukses di Wawancarai oleh Mukidi
Andi: "Apa rahasia sukses ibu ?"
Wanita: "Semua atas petunjuk Suami saya "
Mukidi: "Apa petunjuk suami ibu?"
Wanita: "Setiap Bangun Pagi, Aku buka sarung suamiku. Kalo burungnya nunjuk ke Timur, Aku jualan ke Timur. Kalo burungnya ke Barat, Aku jualan ke Barat." Kalo menunjuk ke bawah, Aku siapkan jamu sebelum berangkat.
Mukidi: "Ooh.. begitu, laah kalau menunjuk ke atas ?"
Wanita: sambil malu - malu "Yaah.. Aku libur mas...



MUKIDI GAK MATI-MATI
Kring..Kringgg...!! Telpon muni ping limo, langsung diangkat Inem, batur anyar:
Mukidi : Halo sopo iki?
Inem : kulo inem Pak, pembantu ènggal - nembé mawon dateng.
Mukidi:Tulung celukno Ibuk_e, omongno Bapak arep ngomong.
Inem : Ibu nembe wonten kamar Pak kaléh tamuné..
Mukidi : Lho.... sopo tamuné ??!!!
Inem : Duko sinten, jaler Pak, tiyangé Putih, inggil, ngguanteng..
Mukidi : Wah bojoku malih Mokong rèk..!! Cepet..jukukno linggis nang cedak kono.
Inem : Mboten wonten Pak, niki entene Kayu palang ganjel lawang Pak..
Mukidi : Yo wis, saiki gebukno nang Gegeré Ibuk_e karo wong lanang iku ..!! Cepet yoo, penting iki.
Waahh bojo siji Mokong pisan..!!
Inem, langsung mlayu nang kamar, wong loro sing lagi omong-omongan nang njero kono, langsung di smash nganggo kayu ganjel lawang.
Blug..Blug..Ngek...Ngek..!! Rong gebukan, wis langsung semaput loro-loroné.
Terus Inem mbalik nang télpon.
Inem : Sampun pak, pun semaput sedaya tiyang é..!!
Mukidi : Bagus, mengko tak undakno bayaranmu. Saiki, kayuné buangen nang jendèlo mburi omah, iku langsung tibo mlebu kali.
Inem : Teng mburi mboten wonten jendèlo niku Pak..
Mukidi : Lho iki omah nang Jl. Cangkring gang papat kan..?
Inem : Sanès, niki griyone teng Jalan Blimbing nomer Limo Pak_e...
Mukidi : Ohh... sepuroné - salah sambung lèk ngono..!
Wis Cepeet ndang minggato wae Nem..mumpung durung gègèr...!!!



ISTRI MUKIDI MASIH PERAWAN
Ternyata Markonah istri Mukidi itu msh perawan. Dia pergi ke dokter kandungan utk periksa.
Waktu dokter mau periksa bagian dalam, terjadi percakapan yg sangat serius :
Markonah: Periksanya “Hati-hati ya Dok, saya masih perawan lho…”
Dokter: “Lho… katanya ibu sudah kawin-cerai 3x, mana bisa masih perawan…?? ”
Markonah: “Gini lho Dok, eks suami saya yang pertama ternyata impoten…...!!”
Dokter: “Oh begitu… tapi suami ibu yang kedua tidak impoten kan....?”
Markonah: “Betul Dok, cuma dia Gay, jadi saya tidak pernah di-apa2in sama dia…”
Dokter: “Lalu suami ibu yang ketiga si Mukidi tidak impoten dan bukan gay kan....?”
Markonah: “Betul Dok, tapi ternyata dia itu orang partai…”
Dokter: “Lalu apa hubungannya dengan keperawanan ibu…??”
Markonah: “Dia? cuma janji-janji saja Dok, tidak pernah ada realisasinya..... Jadi cuma di contreng aja.. gak di coblos......!!!




MUKIDI MASUK SURGA
*Bu Guru* bertanya: "Anak- anak... Siapa yg mau masuk surga..?"
Serempak *Anak-anak* menjawab "Sayaaaa..!"
*Mukidi* yang duduk di belakang diam saja..
*Bu Guru* bertanya lagi: "Siapa yang mau masuk neraka..??"
*Anak-anak*: "Tidak mauuuu....!!!"
*Mukidi* tetap diam saja.
*Bu guru* mendekat: "Mukidi, kamu mau masuk surga atau neraka...?
*Mukidi*: "Tidak kedua-duanya Bu Guru..."
*Bu Guru*: "Kenapa..?"
*Mukidi*: "Habis waktu ayah saya mau meninggal, beliau berpesan, _*'Mukidi... Apapun yang terjadi kamu harus masuk Tentara.!'*_"
Wkwkwkwk ...


MUKIDI TERNYATA CERDAS
Mukidi dan Ponikem yg baru saja bercerai sedang memperebutkan hak kepemilikan anaknya
Di ruang sidang pengadilan ponikem dgn pede nya berkata: "Anak keluar dr perut saya, ya sdh pasti milikku"
Mukidi marah2 dan menyanggah : "Koq Loe asal ngomong aja ,emang kalo uang keluar dari atm trus uangnya milik atm?"
"Jelas sudah pasti uangnya punya yg masukin kartu atm dong"
majelis hakim pun terbengong bengong sambil manggut manggut dan semua yang hadir di ruang sidang pun tertawa dan memberi aplaus pada mukidi....
Mukidi kok dilawan!!!???



MUKIDI MINTA GITUAN
Mukidi dan istrinya membuat kode berhubungan intim dengan kode *"Isi Pulsa"*
Suatu malam Mukidi mendekati istrinya, *"ma,isi pulsa yuk."*
Karena capek baru pulang kantor, istri menjawab. *"maaf Pa, Mama lagi lowbet "*
Malam berikutnya si Mukidi mencoba kembali *"Ma, isi pulsa yuk"*
Karena si istri gak ada hasrat, dia menjawab *"maaf pa, signalnya lemah nih"*
Malam berikutnya Mukidi tidak bosan mencoba dan terus mencoba. *"ma, isi pulsa yuk"*
Lagi-lagi istri menolak karena berhalangan datang bulan *"maaf pa, ada gangguan jaringan"*
Seminggu setelah haid, istri yang begitu ngebet ngajak Mukidinya *"Pa isi pulsa yuk"*
Dengan santai Mukidi menjawab. *"maaf ma, papa udah ganti kartu"*
Siaaaan emen si istri hehehe..



MUKIDI DAN KAMBING
*Suatu hari Bejo berpapasan dengan _mukidi_ beserta kambingnya.*
Bejo takjub dan bertanya, _"Kambing-kambing bapak sehat sekali, dikasih makan apa?"_
Mukidi : _"Yang mana dulu nih? Kambing putih apa kambing yang hitam?"_
Bejo : _"Hmmm, yang hitam dulu deh."_
Mukidi : _"Kalau yang hitam makanannya rumput gajah."_
Bejo : _"Kalau yang putih?"_
Mukidi : _"Yang putih juga."_
Bejo : _"Ooh gitu, terus kambing-kambing ini kuat jalan berapa kilo pak?"_
Mukidi : _"Yang mana dulu nih? Hitam apa yang putih?"_
Bejo : _"Yang hitam dulu deh."_
Mukidi : _"Kalau yang hitam 4 km sehari."_
Bejo : _"Kalau yang putih?"_
Mukidi : _"Yang putih juga."_
*Bejo mulai gondok dan kesel.*
Bejo : _"Kambing ini menghasilkan banyak bulu gak pak pertahunnya?"_
Mukidi : _"Yang mana dulu nih? Yang hitam atau yang putih?"_
Bejo (dengan kesal) : _"Yaang hitam dulu deh!"_
Mukidi : _"Yang hitam banyak pak, 10 kg per tahun."_
Bejo : _"Kalau yang putih?"_
Mukidi : _"Yang putih juga."_
Bejo (emosi) : _"Bapak kenapa sih selalu membedakan kambing hitam dan putih kalau jawabannya ternyata sama?"_
Mukidi : _"Begini pak, soalnya yang hitam itu punya saya."_
Bejo : _"Oohh gitu pak, maaf saya emosi. Lalu kalau yang putih?"_
Mukidi : _"Yang putih juga."_





MUKIDI DAN GAJAH
Guru : "Anak-anak, apa nama binatang yang dimulai dengan huruf G ?".
Dengan cepat Mukidi berdiri dan menjawab : "Gajah, bu guru !"
Guru :"Bagus, pertanyaan berikutnya. Apa nama binatang yang dimulai dengan huruf 'D' ?"
Semua murid diam, tapi Mukidi kembali berdiri dan menjawab :"Dua gajah, Bu Guru..."
Murid-murid tertawa, guru merasa kesal sama Mukidi
Guru :"Mukidi, kamu berdiri di pojok sana ! Ayo anak-anak kita lanjutkan. Pertanyaan berikut, binatang apa yang dimulai dengan huruf "M"?
Semua murid diam.
Tapi lagi-lagi Mukidi menjawab dengan tenang : "Mungkin Gajah..."
Guru :"Mukidi, kamu keluar dan berdiri di depan pintu !"
Mukidi keluar dengan wajah sedih. Guru melanjutkan.
Guru :"Pertanyaan terakhir. Anak-anak, binatang apa yang dimulai dengan huruf "J"?
Guru menunggu jawaban, tapi semua diam.
Tak lama sayup-sayup terdengar suara Mukidi dari luar kelas : "Jangan-jangan Gajah"
Saking kesalnya, Bu Guru menyuruh Mukidi pulang....
Akhirnya guru lega dan kembali ke kelas.
Guru : "Sekarang anak-anak, binatang apa yang diawali dengan huruf P ?"
Sekali lagi semua murid terdiam.
Tiba-tiba HP bu Guru berdering.
Guru : "Ya hallo..."
HP : 'Maaf bu saya Mukidi, jawabannya, Pasti Gajah"
Guru : Mukidiiiiiii...!!!!!!!!😬😬😅🏃🏃🏃💃💃💃





MUKIDI EDISI KEMERDEKAAN
Aku sedih krungu critane koncoku iki: Jaya tonggoan ambek Mukidi sing saingan..
Nek Jaya tuku sepeda anyar, Mukidi ra gelem kalah. Mukidi yo tuku sepeda anyar pisan.
Pas kate riyoyoan, omahe Jaya dicet abang. Sesuke Mukidi ngecet omahe werno abang pisan.
Mergo wingi 17 Agustus ya masang spanduk ndik ngarep omahe "INDONESIA TETAP JAYA".
Panas atine, Mukidi masang spanduk ndik ngarep omahe "INDONESIA TETAP MUKIDI".
Salam Bahagiahhhh dan sejahteraahhh



MUKIDI NGAWINKE ANAKE
Pak Mukidi mengawinkan ke 3 anaknya, yaitu Minah, Mimin dan Mumun. Mereka berbulan madu ke Bali.
Pak Mukidi bilang, "ntar pada kirim kabar ya ke Babeh tentang kualitas laki lu masing2. Pake sms aja, biar gak jorok...pake motto iklan aja ".
Hari ke 2 bulan madu .. Mimin SMS ke Pak Mukidi , SMS Mimin cukup singkat : "STANDARD CHARTERED ".
Pak Mukidi langsung mencari iklan Standard Chartered di koran dan terbacalah tulisan : " BESAR, KUAT DAN BERSAHABAT ". Pak Mukidi langsung senyum ...
Hari ke 4 Mumun SMS ke Pak Mukidi , isi smsnya : " NESCAFE ". Pak Mukidi langsung cari iklan Nescafe di koran dan terbaca moto Nescafe: "NIKMATNYA SAMPAI TETES TERAKHIR ". Pak Mukidi kembali senyum ..
Memasuki hari ke 6... Pak Mukidi mulai risau karena Minah tak ada kabar SMS .. "Waduh ada apa dgn si Minah ya, jangan2 dia dibikin kecewa ama lakinya ?
"Hari ke 8 barulah masuk SMS dari Minah , isinya : "AIR ASIA ".
Pak Mukidi penasaran yang dia tahu AIR ASIA itu armada Penerbangan terbesar di Asia. Langsung Pak Mukidi cari koran , terbaca motto AIR ASIA, ini isinya : "7 KALI SEMINGGU 3 KALI SEHARI 5 JAM NON STOP ". Sampai ga sempat sms Beh......... Hah ????
Met malam Jumat Pren




MUKIDI JURAGAN MANGGA
Mukidi juragan yg pelit punya pohon mangga yg lagi berbuah lebat....
Karena takut dicuri dia menulis di papan terus di paku dibatang pohon mangganya....
"Biar gue gak liat lu ambil, tapi Tuhan liat elu...!! ingat itu...!!"
Keesokan harinya alangkah terkejutnya dia... :
Dia lihat buah mangga nya sdh habis dicuri semua...:
Dan yg lbh bikin ter kejutnya lagi, dia melihat si pencuri meninggalkan tulisan dibawah pohon...
"Biar Tuhan lihat gue, tapi gw yakin Dia gak akan kasi tau elu...." =))
Mukidi pingsan....
MUKIDI DAN POLISI
Mukidi sdg mengendarai mobil kesayangannya N lewat di jalan by pass, ternyata polisi sedang razia.. Mukidi kaget.., karna lupa bawa SIM dan STNK ...
Polisi : "Selamat siang, pak... Mana SIM dan STNK..?!!" :)
Mukidi : "Aduh... Lupa bawa, pak..
Polisi : "Kalu begitu bapak ikut ke pos, bikin surat tilang !" /:)
Mukidi ( pucat takut) : "Aduh kasiani aku pak.., tolong tunggu ∂ku mau ☎ kakak ku di kantor Dit Lantas POLDA yaa pak.."
Dengar Mukidi bilang begitu, polisi kaget...
Polisi : "Ah, ßetul itu sodaramu di Dit Lantas Polda ?" :O
Mukidi : "Iyaaa... nich nomor telp nya Pak, ☎ langsung kalau ndak percaya ..." :>
Polisi : "Yah, sudah... #:-s Untung bapak ada sodara di Dit Lantas Polda....sy bebaskan.." :$
Mukidi pergi.. \=D/ , polisi jadi penasaran.. Trus ☎ di nomor yg Mukidi kasih tadi.
Polisi : "Selamat siang, benar nomor ini di Polda ?" :/
Suara ☎ : "Benar, pak ..!" ;)
Polisi : "Kalu boleh tau, ini di bagian apa ?" 8-|
Suara ☎ : "Ini di KANTIN, pak... Bapak mau pesan apa.. ?" ;;)
Polisi : 

Saturday, June 7, 2014

Candi Sukuh


Pengantar
Bangsa Indonesia dikenal memiliki kebudayaan dan peninggalan seni budaya yang beragam. Mulai dari seni bangunan, kriya, bahasa, norma kehidupan sosial, adat istiadat dan berbagai seni budaya yang tak terhitung jumlahnya. Kebudayaan dan peninggalan seni budaya tersebut mempunyai nilai yang tinggi dan beberapa diantaranya diakui oleh dunia sebagai warisan budaya asli “heritage of” Indonesia. Seni budaya yang masih banyak dijumpai di Indoensia antara lain bangunan candi, keris, wayang, seni pertunjukan tari tradisional, gamelan, kethoprak kemudian batik, topeng, adat kebiasaan seperti upacara-upacara ritual, dan lainnya.
Candi merupakan peninggalan budaya bangsa Indonesia yang memiliki nilai sejarah yang sangat berharga. Peninggalan candi banyak tersebar di seluruh Indonesia dengan jumlah terbanyak berada di pulau Jawa. Candi Borobudur dan candi Prambanan adalah beberapa candi yang sangat dikenal bahkan sampai ke mancanegara. Tidak hanya candi Borobudur, candi Prambanan dan beberapa candi besar lainnya, namun kita juga memiliki banyak candi yang berukuran lebih kecil dan memiliki ciri khas yang berbeda. Candi Muara Takus di Riau, Biaro Bahal di Sumatera Utara, atau candi Agung di Kalimantan Timur, menunjukkan candi bukan milik Pulau Jawa saja.
Istilah candi digunakan untuk menyebutkan sebuah bangunan yang berasal dari masa klasik sejarah Indonesia, yaitu dari kurun waktu abad ke-5 M hingga ke-16 M. Candi dapat berupa bangunan kuil yang berdiri sendiri atau berkelompok. Dapat pula berupa bangunan berbentuk gapura beratap (Paduraksa) dan tidak beratap (Candi Bentar). Petirtaan yang dilengkapi kolam dan arca pancuran juga kerap disebut candi.
Candi yang berada di daerah lain seperti Sumatera Utara dikenal istilah ”biaro” dan di Jawa Timur istilah ”cungkub”. Namun masyarakat lebih mengenal istilah candi, apa pun jenis bangunan kuno (termasuk reruntuhan) serta di mana pun letak candi berada. Kata ”candi” berasal dari salah satu nama yang diberikan kepada Dewi Durga, yakni permaisuri Dewa Siwa. Dewi Durga disimbolkan sebagai Dewi Maut  yang disebut dengan “candika”.  Istilah candi kemudian digunakan untuk menyebutkan bangunan peninggalan pada jaman Indonesia purba.
Candi merupakan peninggalan kerajaan-kerajaan kuno yang pernah ada di Indonesia, seperti Mataram Hindu, Singasari, Majapahit, dan Sriwijaya. Candi Borobudur dan Candi Prambanan (Loro Jonggrang) adalah bukti-bukti kejayaan Kerajaan Mataram dari abad ke-8 hingga ke-11. Candi Singasari, Kidal, dan Jago merupakan sisa-sisa kebesaran Kerajaan Singasari, dari abad ke-11 hingga ke-13. Candi Tikus, Bajangratu, Brahu, dan Wringin Lawang adalah peninggalan Kerajaan Majapahit dari abad ke-13 hingga ke-15. Candi-candi di sekitar Muara Jambi diduga merupakan sisa-sisa Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 hingga ke-11.
Candi-candi di Indonesia umumnya bercirikan agama Budha (terutama aliran Mahayana dan Tantrayana) dan agama Hindu (terutama aliran Siwaisme). Candi bersifat Budha dikenal lewat arca Budha dan bentuk stupa, misalnya Borobudur dan Mendut. Sementara itu, Candi bersifat Hindu mempunyai arca-arca dewa-dewi di dalamnya, misalnya Prambanan dan Dieng. Uniknya, beberapa candi bersifat campuran Siwa-Budha, antara lain Singasari dan Jawi di Jawa Timur.
Candi di Indonesia dapat dibedakan berdasarkan langgam seninya menjadi tiga bagian. Pertama, langgam Jawa Tengah Utara. Contohnya Candi Gunungwukir, Badut, Dieng, dan Gedongsongo. Kedua, Langgam Jawa Tengah Selatan misalnya Candi Kalasan, Sari, Borobudur, Mendut, Sewu, Plaosan, dan Prambanan. Ketiga, langgam Jawa Timur, termasuk candi-candi di Bali, Sumatera dan Kalimantan. Contohnya Candi Kidal, Jago, Singasari, Jawi, Panataran, Jabung, Muara Takus dan Gunung Tua. Ditilik dari corak dan bentuknya, pada dasarnya candi di Jawa Tengah Utara tidak berbeda dari candi-candi Jawa Tengah Selatan. Hanya candi-candi di Jawa Tengah Selatan lebih mewah dan lebih megah dalam bentuk dan hiasan dibandingkan candi-candi Jawa Tengah Utara. Perbedaan yang nyata terdapat pada candi-candi Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Umumnya candi langgam Jawa Tengah berbentuk tambun, atapnya berundak-undak, reliefnya timbul agak tinggi dan lukisannya naturalis, mengha-dap ke Timur, letak candi di halaman utama, gawang pintu dan relung berhiaskan kala makara serta berbahan batu andesit. Sementara itu, candi langgam Jawa Timur berbentuk ramping, atapnya merupakan perpaduan tingkatan, puncaknya berbentuk kubus, makara tidak ada hanya hiasan atasnya diberi kepala kara, reliefnya timbul sedikit, lukisannya simbolis menyerupai wayang kulit, letak candi di halaman belakang, menghadap ke barat dan berbahan batu bata. Sejumlah arkeolog menamakan gaya seni candi berdasarkan aspek zaman dan periode, yaitu gaya Mataram Kuno (abad VIII-X), gaya Singasari (abad XII-XIV), dan gaya Majapahit (abad XIII-XV).
Dahulu candi di Indonesia digunakan sebagai pemujaan terhadap nenek moyang (makam). Ada beberapa candi yang berfungsi sebagai stupa (candi Borobudur), sebagai wihara (candi Sari), sebagai istana (candi Boko), sebagai petirtaan / pemandian (taman sari) dan sebagai gapura (candi Bajang Ratu). Penggunaan candi sebagai tempat pemujaan dilakukan masyarakat (Jawa-bahkan hingga sekarang) karena dianggap roh nenek moyangnya akan pergi menuju ke Yang Kuasa. Mahameru (gunung) dianggap sebagai tempat yang tinggi makna simboliknya, yakni makna-makna sakral, lebih dekat dengan Yang Kuasa dan kekuasaan yang lebih tinggi. Oleh karena itu candi-candi di Indonesia banyak yang “bersandar” di gunung yakni didirikan di tempat dataran yang tinggi, lereng atau area sekitar gunung-gunung. Lokasi candi yang berada di gunung ini membuat lokasi candi biasanya berada di luar pusat-pusat kerajaan kuno di Indonesia.
Pendirian candi-candi yang ada di Indonesia mempunyai maksud, fungsi dan tujuan. Setiap candi biasanya memiliki relief yang merupakan cerita, tuntunan nilai-nilai yang tinggi dari pendirinya, dari cerita Ramayana, Mahabarata hingga relief-relief yang melukiskan kejayaan suatu kerajaan. Setiap candi mempunyai ciri dan keunikan tersendiri, salah satunya adalah candi Sukuh. Situs candi ini sangat unik, baik dilihat dari bentuk candi secara umum maupun dari relef-relief yang dipahat di dalamnya.  Menurut sejarah, Candi Sukuh dibangun pada sekitar abad ke-15 oleh masyarakat Hindu Tantrayana.. Candi ini dibangun pada masa akhir runtuhnya Kerajaan Majapahit yang berpaham Hindu. Pada waktu itu para pengikut setia Kerajaan Majapahit yang runtuh diserang Kerajaan Demak (berpaham Islam) melarikan diri ke lereng Gunung Lawu, kemudian membangun candi ini.
Situs candi Sukuh ditemukan kembali pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada tahun 1815 oleh Johnson, pada waktu itu ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data guna menulis bukunya The History of Java. Mulai saat itu banyak kalangan sarjana mengadakan penelitian Candi Sukuh antara lain Dr. Van der Vlis tahun 1842, Hoepermen diteruskan Verbeek tahun 1889, Knebel tahun 1910, dan sarjana Belanda Dr. WF. Stutterheim.
Profil Candi sukuh
Lokasi candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada ketinggi-an kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut pada koordinat 07o37, 38’ 85’’ Lintang Selatan dan 111o07,. 52’65’’ Bujur Barat. Candi ini terletak di dukuh Berjo, desa Sukuh, kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah. Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta. Kurang lebih 4 kilometer mendaki gunung Lawu lagi, terdapat situs Candi Cetho.  Untuk menuju lokasi ini kita dapat mengikuti jalan luar propinsi yang menuju kearah objek wisata Tawang Mangu, bahkan jika terus naik kita dapat menjumpai objek wisata Waduk Sarangan yang berada di wilayah  Kabupaten Magetan Jawa Timur.  Di sekitar candi sukuh juga terdapat sebuah makam mantan Ibu Negara yakni makam Kalitan tempat disemayamkan Ibu Tien Soeharto. Jalan untuk mencapai lokasi candi Sukuh mempunyai medan yang cukup terjal karena berada di atas sebuah bukit. Namun sekarang jalan menuju ke candi sudah diaspal cukup nyaman meskipun harus hati-hati karena terkadang ada kabut tebal yang mengurangi pandangan depan dan membuat jalan aspal semakin licin.
Bangunan candi Sukuh memiliki ciri khas bentuk yang relatife sederhana dibandingkan dengan candi lain. Hiasan candi dan relief yang ada di candi Sukuh hanya sedikit dan tidak terlalu dekoratif . Kesan yang didapatkan dari candi ini sungguh berbeda dengan yang didapatkan dari candi-candi besar di Jawa Tengah lainnya yaitu Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Bahkan bentuk bangunan candi Sukuh cenderung mirip dengan peninggalan budaya Maya di Meksiko atau peninggalan budaya Inca di Peru. Bentuk candi ini yang berupa trapezium memang tak lazim seperti umumnya candi lain di Indonesia. Struktur ini juga mirip dengan bentuk piramida di Mesir. Candi ini juga tergolong kontroversial karena adanya objek-objek lingga dan yoni yang melambangkan seksualitas.
Kesan kesederhanaan bentuk candi ini menurut arkeolog Belanda W.F. Stutterheim (tahun 1930) ada tiga argumen: pertama, kemungkinan pemahat candi Sukuh bukan seorang tukang batu melainkan tukang kayu dari desa dan bukan dari kalangan keraton, kedua candi dibuat dengan agak tergesa-gesa sehingga kurang rapi, atau ketiga bahwa keadaan politik pada waktu itu menjelang keruntuhan Kerajaan Majapahit karena didesak oleh pasukan Islam Demak, sehingga tidak memungkinkan untuk membuat candi yang besar dan megah. 

Gapura Pertama dengan bentuk arsitektur yang khas,disusun agak miring berbentuk trapesium dengan atap di atasnya.
Berbagai relief tampak dilukiskan di beberapa sudut candi, beberapa ornamen sakral seperti Lingga-Yoni digambarkan secara realistis mirip sekali dengan genital pria dalam kehidupan kita sehari-hari. Beberapa kalangan menyebut candi ini disebut candi porno, padahal pada zaman dahulu mungkin kaum awam tidak mudah masuk kedalam candi ini karena kesakralannya yang tinggi.
Teras Pertama
Candi Sukuh dibangun dalam tiga susunan trap (teras), teras yang posisinya makin ke belakang terletak di dataran yang makin tinggi. Pada teras pertama terdapat pintu gerbang (gapura) utama. Bentuk gapuranya amat unik yakni dibuat miring seperti trapezium, layaknya pylon (gapura pintu masuk ke tempat suci) di Mesir. Pada sisi gapura sebelah utara terdapat relief “manusia ditelan raksasa” yakni sebuah “sengkalan rumit” yang bisa dibaca “Gapura buta mangan wong “ (gapura raksasa memakan manusia ). Gapura dengan karakter 9, buta karakternya 5, mangan karakternya 3, dan wong mempunyai karakter 1. Jadi candra sengkala tersebut dapat dibaca 1359 Saka atau tahun 1437 M, menandai selesainya pembangunan gapura pertama ini. Dilantai dasar dari gapura ini terdapat relief yang menggambarkan phallus (penis) berhadapan dengan vagina dengan di kelilingi oleh kalungan sperma. Sepintas relief ini mempunyai kesan porno, namun relief ini mengandung makna yang mendalam, lingga-yoni ini merupakan lambang kesuburan.
Lingga yoni berbentuk alat kelamin pria dan wanita serta berkalung untaian sprema
Relief tersebut di pahat di lantai pintu masuk dengan maksud agar siapa saja yang melangkahi relief tersebut segala kotoran yang melekat di badan menjadi sirna sebab sudah terkena “suwuk”. Relief tersebut berfungsi sebagai “suwuk” untuk “ngruwat”, yakni membersihkan segala kotoran yang melekat di hati setiap manusia. Dalam bukunya Candi Sukuh Dan Kidung Sudamala Ki Padmasuminto menerangkan bahwa relief tersebut merupakan sengkalan yang cukup rumit yaitu : “Wiwara Wiyasa Anahut Jalu “.Wiwara artinya gapura yang suci dengan karakter 9, Wiyasa diartikan daerah yang terkena “suwuk” dengan karakter 5, Anahut (mencaplok) dengan karakter 3, Jalu ( laki-laki ) berkarakter 1. Jadi bisa di temui angka tahun 1359 Saka.
Teras kedua
Gapura yang terletak di teras kedua kondisinya telah rusak. Di kanan dan kiri gapura yang biasanya terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala dalam keadaan rusak dan sudah tidak jelas bentuknya lagi. Gapura sudah tidak memiliki atap dan pada teras ini tidak dijumpai banyak patung-patung. Pada bagian tengah terdapat relief yang menggambarkan Ganesya dengan tangan yang memegang ekor. Relief ini terdapat sebuah candrasangkala pula yang dalam bahasa Jawa berbunyi “gajah wiku anahut buntut”, artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gajah pendeta menggigit ekor”. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi. Jika angka tahun ini benar menunjukkan pembangunan gapura ini, maka ada selisih hampir duapuluh tahun antara gapura di teras kedua ini dengan gapura di teras pertama.
Trap kedua ini lebih tinggi daripada trap pertama dengan pelataran yang lebih luas. Terdapat  jejeran tiga tembok dengan pahatan-pahatan relief yang menggambarkan peristiwa sosial yang menonjol di masyarakat sekitar pada saat pembangunan Candi Sukuh, relief ini disebut relief Pande Besi. Relief sebelah selatan menggambarkan seorang wanita terdiri di depan tungku pemanas besi, kedua tangannya memegang tangkai “ububan” ( peralatan mengisi udara pada pande besi). Pande besi adalah pengrajin yang membuat peralatan untuk menunjang kehidupan, seperti alat-alat pertanian, alat rumah tangga dan lain-lain.
Bangunan utama candi Sukuh, bentuknya seperti bentuk Pyramid
Teras ketiga
Pada teras ketiga ini terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Apabila ingin mendatangi candi induk yang suci ini, maka batuan berundak yang relatif lebih tinggi daripada batu berundak sebelumnya harus dilalui. Selain itu lorongnya juga sempit. Konon arsitektur ini sengaja dibuat demikian, sebab candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, memang dibuat untuk menguji keperawanan para gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.
Relief pada sebelah  utara menggambarkan seorang laki-laki sedang duduk dengan kaki selonjor. Di depannya tergolek senjata-senjata tajam seperti keris, tumbak dan pisau. Trap Ketiga ini trap tertinggi yang merupakan trap paling suci. Tepat di bagian tengah candi utama terdapat sebuah bujur sangkar yang merupakan tempat menaruh sesajian, untuk membakar kemenyan, dupa dan hio.
Dengan struktur bangunan seperti ini, candi Sukuh dikatakan menyalahi pola dari buku arsitektur Hindu Wastu Widya. Di dalam buku itu diterangkan bahwa bentuk candi harus bujur sangkar dengan pusat persis di tengah-tengahnya, dan yang ditengah itulah tempat yang paling suci. Sedangkan ikwal Candi Sukuh ternyata menyimpang dari aturan-aturan itu, hal tersebut bukanlah suatu yang mengherankan, sebab ketika Candi Sukuh dibuat, era kejayaan Hindu sudah memudar, dan mengalami pasang surut, sehingga kebudayaan asli Indonesia terangkat ke permukaan lagi yaitu kebudayaan prahistori jaman Megalithic, sehingga mau tak mau budaya-budaya asli bangsa Indonesia tersebut ikut mewarnai dan memberi ciri pada candhi Sukuh ini. Karena trap ketiga ini trap paling suci, maka maklumlah bila ada banyak petilasan. Seperti halnya trap pertama dan kedua, pelataran trap ketiga ini juga dibagi dua oleh jalan setapa yang terbuat dari batu. Jalan batu di tengah pelataran candi ini langka ditemui di candi-candi pada umumnya. Model jalan seperti itu hanya ada di “bangunan suci” prasejarah jaman Megalithic.
Kemudian pada bagian kiri candi induk terdapat serangkaian relief-relief yang merupakan mitologi utama Candi Sukuh dan telah diidentifikasi sebagai relief cerita Kidung Sudamala. Sudamala adalah salah satu 5 ksatria Pandawa atau yang dikenal dengan Sadewa. Disebut Sudamala (suda artinya: bersih, mala berarti: dosa) sebab Sadewa telah berhasil “ngruwat” Bathari Durga yang menda-pat kutukan dari Batara Guru karena perselingkuhannya. Sadewa berhasil “ngruwat” Bethari Durga yang semula adalah raksasa betina bernama Durga atau sang Hyang Pramoni kembali ke wajahnya yang semula, yakni seorang bidadari di kayangan dengan nama bethari Uma Sudamala. Sehingga cerita Sudamala ini kemudian disebutkan dalam sebuah buku / kidung, yakni Kidung Sudamala. Urutan relief dalam fragmen Sudamala adalah sebagai berikut:
Relief pertama
Di bagian kiri dilukiskan sang Sahadewa atau Sadewa, saudara kembar Nakula dan merupakan yang termuda dari para Pandawa Lima. Keduanya adalah putra Prabu Pandu dari istrinya yang kedua, Dewi Madrim. Madrim meninggal dunia ketika Nakula dan Sadewa masih kecil dan keduanya diasuh oleh Dewi Kunti, istri utama Pandu. Dewi Kunti lalu mengasuh mereka bersama ketiga anaknya dari Pandu, yaitu: Yudhistira, Bima dan Arjuna. Relief ini menggambarkan Sadewa yang sedang berjongkok dan diikuti oleh seorang punakawan atau pengiring. Berhadapan dengan Sadewa terlihatlah seorang tokoh wanita yaitu Dewi Durga yang juga disertai seorang punakawan. Relief ini menggambarkan ketika Dewi Kunthi meminta pada Sadewa agar mau “ngruwat” Bethari Durga namun Sadewa menolak.
Relief kedua.
Pada relief kedua ini dipahat gambar Dewi Durga yang telah berubah menjadi seorang raksasi (raksasa wanita) yang berwajah mengerikan. Dua orang raksasa mengerikan; Kalantaka dan Kalanjaya menyertai Batari Durga yang sedang murka dan mengancam akan membunuh Sadewa. Kalantaka dan Kalanjaya adalah jelmaan bidadara yang dikutuk karena tidak menghormati Dewa sehingga harus terlahir sebagai raksasa berwajah buruk. Sadewa terikat pada sebuah pohon dan diancam dibunuh dengan pedang karena tidak mau membebaskan Durga. Di belakangnya terlihat antara lain ada Semar. Terlihat wujud hantu yang melayang-layang dan di atas pohon sebelah kanan ada dua ekor burung hantu. Lukisan mengerikan ini kelihatannya ini merupakan lukisan di hutan Setra Gandamayu (Gandamayit) tempat pembuangan para dewa yang diusir dari sorga karena pelanggaran.
Relief  ketiga
Pada bagian ini digambarkan bagaimana Sadewa bersama punakawan-nya, Semar berhadapan dengan pertapa buta bernama Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa di pertapaan Prangalas. Atas perintah Batari Durga yang telah dibebaskannya, Sadewa harus mengawini anak seorang pendeta buta. Pertapa buta itu pun disembuhkannya dari kebutaan.



Relief keempat
menggambarkan Sadewa berhasil “ngruwat” Sang Durga. Sadewa kemudian diperintah pergi kepertapaan Prangalas, di situ Sadewa menikah dengan Dewi Pradapa. Adegan di sebuah taman indah di mana sang Sadewa sedang bercengkerama dengan Tambrapetra dan putrinya Dewi Padapa serta seorang punakawan di pertapaan Prangalas. Tambrapetra berterima kasih dan memberikan putrinya kepada Sadewa untuk dinikahinya.

Relief kelima
Relief ini melukiskan adegan adu kekuatan antara Bima dan kedua raksasa Kalantaka dan Kalanjaya. Bima dengan kekuatannya yang luar biasa sedang mengangkat kedua raksasa tersebut untuk dibunuh dengan kuku pancanakanya.




Beberapa bangunan di sekitar candi utama
Pada sebelah selatan jalan batu ada terdapat candi kecil, yang didalamnya terdapat arca dengan ukuran yang kecil pula. Di lokasi ini terdapat dua buah patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian Tirta Amerta yang terdapat dalam kitab Adiparwa, kitab pertama Mahabharata. Pada bagian ekor sang Garuda terdapat sebuah prasasti yang menandai tahun saka 1363. Cerita ikwal Garudeya adalah sebagai berikut: Garuda mempunyai ibu bernama Winata yang menjadi budak salah seorang madunya yang bernama Dewi Kadru. Dewi Winata menjadi budak Kadru karena telah kalah bertaruh tentang warna ekor kuda uchaiswara. Dewi Kadru menang dalam bertaruh sebab dengan curang dia menyuruh anak-anaknya yang berwujud ular naga yang berjumlah seribu yang menyemburkan bisa-bisanya di ekor kuda Uchaiswara sehingga warna ekor kuda berubah hitam. Dewi Winata dapat diruwat Sang Garuda dengan cara memohon “tirta amerta” (air kehidupan) kepada para Dewa.
Altar berbentuk kura-kura
Kemudian sebagai bagian dari kisah pencarian Tirta Amerta (air kehidupan) di dekat candi kecil terdapat kura-kura yang cukup besar sejumlah tiga ekor sebagai lambang dari dunia bawah yakni dasar Gunung Mahameru, ini berkaitan dengan kisah suci agama Hindhu yakni “samudra samtana” yaitu ketika Dewa Wisnu menjelma menjadi kura-kura raksasa untuk membantu para dewa-dewa lain mencari air kehidupan (tirta perwita sari). Bentuk kura-kura ini menyerupai meja yang kemungkinan didesain sebagai tempat menaruh untuk sesajian. Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan Gunung Mandaragiri yang diambil puncaknya untuk mengaduk-aduk lautan mencari Tirta Amerta (kisah Pemutaran Laut Mencari Amerta).
Bangunan Dan Patung Lainnya
Salah satu prasasti di kompleks candi Suku.Di komplek candi induk terdapat sebuah prasasti yang menyiratkan bahwa candi Sukuh dalam candi untuk Pengruwatan, yakni prasasti yang diukir dipunggung relief sapi. Sapi tersebut digambarkan sedang menggigit ekornya sendiri dengan kandungan sengkalan rumit: “Goh wiku anahut buntut” maknanya tahun 1379 Saka. Sengkalan ini makna tahunnya persis sama dengan makna prasasti yang ada dipunggung sapi yang artinya  kurang lebih demikian: untuk diingat-ingat ketika bersujud di kahyangan (puncak gunung), terlebih dulu agar datang di pemandian suci. Saat itu adalah tahun saka Goh wiku anahut buntut 1379. Kata yang sama dengan ruwatan disini yaitu kata: “pawitra” yang artinya pemandian suci. Karena di kompleks Candi Sukuh tidak terdapat pemandian atau kolam pemandian maka pawitra dapat diartikan air suci untuk “ngruwat” seperti halnya kata “tirta sunya”. Tempat suci untuk pengruwatan, seperti yang sudah diutarakan, dengan bukti-bukti relief cerita Sudamala, Garudeya serta prasasti-prasasti, maka dapat dipastikan candi Sukuh pada jamannya adalah tempat suci untuk melangsungkan upacara-upacara besar (ritus) ruwatan.
Selain candi utama dan patung-patung kura-kura, garuda serta relief-relief, masih ditemukan pula beberapa patung hewan berbentuk celeng (babi hutan) dan gajah berpelana. Pada zaman dahulu para ksatria dan kaum bangsawan berwahana gajah untuk sarana transportasi. Bentuk bangunan lain adalah relief tapal kuda yang menggambarkan dua sosok manusia di dalamnya, di sebelah kira dan kanan yang berhadapan satu sama lain. Ada yang berpendapat bahwa relief ini melambangkan rahim seorang wanita dan sosok sebelah kiri melambangkan kejahatan dan sosok sebelah kanan melambangkan kebajikan. Kemudian ada sebuah bangunan kecil di depan candi utama yang disebut candi pewara. Di bagian tengah bangunan ini berlubang dan terdapat patung kecil tanpa kepala.
Keberadaan Candi Sukuh
Bentuk candi Sukuh secara umum lebar bagian bawah candi kemudian meruncing ke atas seperti gunung, meskipun secara spesifik bentuk candi Sukuh ini tergolong unik dibandingkan dengan candi-candi lain di Jawa (Tengah). Sesuai dengan kepercayaan masyarakat pada waktu itu bahwa gunung merupakan tempat yang memiliki unsur kekuatan dan kesakralan, maka candi ini dibangun di sebuah lereng gunung Lawu. Kondisi ini memberikan pandangan bahwa bangunan candi ini didirikan di luar pusat pemerintahan atau pusat kerajaan yang mendirikannya, karena biasanya pusat-pusat kekuasaan kerajaan jaman dulu berada di dataran yang rata dan tidak berbukit seperti Kraton Jogja, Solo, dan lainnya.
Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa sejarah berdirinya situs candi Sukuh ini pada awal abad 15. Menurut sejarah pula, candi Sukuh didirikan oleh para pelarian Kerajaan Majapahit yang kalah perang melawan Kerajaan Demak dalam proses penyebaran agama Islam di Jawa. Kerajaan Hindu Majapahit mengalami puncak kejayaannya pada tahun 1350–1389. Puncak kejayaan Majapa-hit ini dibawah pimpinan Raja Hayam Wuruk dan patihnya Gajah Mada yang menguasai seluruh kepulauan Indonesia bahkan hingga Jazirah Malaka sesuai dengan “Sumpah Palapa” Gajah Mada yang ingin Nusantara bersatu. Kemudian Islam mulai masuk ke Jawa dengan membawa pengaruh dan perkembangan yang sangat pesat. Apabila sejarah ini benar, maka lokasi situs candi yang didirikan oleh pengikut Majapahit ini berada sangat jauh dari pusat kerajaan Majapahit. Pusat kerajaan Majapahit berada di Jawa Timur sedangkan lokasi candi Sukuh masuk ke wilayah Jawa Tengah (meskipun dalam wilayah perbatasan Jateng dan Jatim).
Lokasi candi Sukuh saat ini berada di dalam wilayah Karesidenan Surakarta. Sejarah berdirinya karesidenan Surakarta sendiri mempunyai rentang waktu yang cukup lama dengan berdirinya candi Sukuh. Kasunanan Surakarta Hadiningrat berdiri sebagai suatu kerajaan pecahan dari Kesultanan Mataram (Islam) pada 13 Februari 1755, yaitu sebagai akibat dari ditandatanganinya Perjanjian Giyanti. Pemerintah Hindia Belanda dalam perjanjian tersebut juga mengakui Sunan Pakubuwana III sebagai raja yang berhak mengatur rumah tangganya sendiri. Di awal masa kemerdekaan (1945-1946), bersama Praja Mangkunegaran sempat menjadi Daerah Istimewa Surakarta. Akan tetapi karena kerusuhan dan agitasi politik saat itu, maka pada tanggal 16 Juni 1946 oleh Pemerintah Indonesia statusnya diubah menjadi Karesidenan Surakarta, menyatu dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa candi Sukuh bukan produk dari Kasunanan Surakarta, karena usia candi Sukuh keberadaannya lebih dulu daripada Kasunanan Surakarta. Candi Sukuh juga bukan merupakan produk dari Kesultanan Mataram, karena Kesultanan Mataram menganut paham Islam yang mentabukan keberadaan candi. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa candi Sukuh kemungkinan bukan produk sebuah kerajaan tertentu sehingga tidak berada di sebuah pusat pemerintahan atau pusat kerajaan.
Keberadaan candi Sukuh yang berlokasi di tempat yang jauh dari pusat kerajaan serta relief yang dipahat kurang indah dibandingkan dengan candi-candi lain di Indonesia, menunjukkan bahwa candi ini dibuat oleh orang-orang yang kurang memahami atau memiliki kemampuan skill dan pengetahuan tentang pembuatan candi pada waktu itu. Bentuk candi yang sederhana dan terlihat lain dibandingkan dengan candi lain diperkirakan dipahat oleh orang yang tidak menguasai teknik pahat batu atau bahkan dipahat oleh tukang kayu atau tukang pande besi, karena disana juga ditemukan relief kegiatan pande yakni membuat peralatan atau kerajinan dari besi.
Lokasi candi yang berada di sebuah lereng gunung Lawu ini juga menunjukkan bahwa penentuan tempat ini seadanya tanpa memperhitungkan kondisi yang lebih strategis. Pemilihan lokasi candi yang jauh di lereng gunung tersebut “candi ndeso” kemungkinan merupakan tempat yang aman bagi para pelarian orang Majapahit yang kalah perang oleh pasukan Islam Demak. Pelarian yang kalah dalam suatu pertempuran tentunya mencari tempat persembunyian yang aman dan jauh dari pusat keramaian, maka dengan lokasi candi Sukuh yang pada waktu dulu mungkin tempatnya sangat sulit untuk dijangkau oleh lain.
Penutup
Candi Sukuh merupakan candi yang digunakan sebagai sarana peribadahan umat Hindu pada waktu itu. Meskipun adanya relief penis dan vagina yang terkesan porno, namun tentunya memiliki simbol dan makna tertentu karena candi ini digunakan sebagai tempat beribadah. Relief lingga yoni di gapura terdepan dan bagian atas candi induk di candi Sukuh juga merupakan lambang ucapan syukur masyarakat setempat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesuburan yang mereka peroleh. Sedangkan dilihat dari bentuk candi yang mirip dengan “punden berundak” tentulah candi ini merupakan tempat pemujaan roh-roh leluhur. Candi tersebut merupakan bangunan suci agama Syiwa, yang di Indonesia berbentuk lingga dan digambarkan secara realistis sebagai alat kelamin laki-laki. Kenyataan lainnya adalah adanya ruang pemujaan di candi utama yang digunakan untuk bersembahyang.
Keberadaan Candi Sukuh merupakan tempat peribadahan yang suci dan menjadi saksi atas ketaatan sebuah generasi dan keutuhan sebuah masa yang begitu mengagungkan nilai-nilai kebudayaan dan peribadahan. Pendirian peninggalan ini tentunya mempunyai makna dan maksud berupa ajaran hidup bagi umat dan masyarakatnya, tentunya hal ini merupakan salah satu nilai penting yang perlu kita gali dan kita terjemahkan dalam hidup kita sesuai dengan keyakinan kita. Kessederhanaan candi Sukuh adalah salah satu wujud karya nenek moyang yang tiada ternilai harganya, maka picik bagi kita sebagai generasi pewaris bila tak ada niatan untuk tidak turut berbagi dalam upaya pelestarian nilai-nilai dan kandungan yang tersimpan didalamnya.
Candi Sukuh pada jamannya juga merupakan tempat suci untuk melangsungkan upacara-upacara besar (ruwatan). Bukti-bukti bahwa Candi Sukuh merupakan tempat untuk upacara pengruwatan yakni: (a) Relief Lingga-yoni di gapura pertama selain berfungsi sebagai “suwuk” juga berfungsi untuk “ngruwat” siapa saja yang memasuki candi. (b) Relief Sudamala yang menceritakan Sadewa “ngruwat” Sang Durga. (c) Relief Garideya yang menggambarkan Garuda “ngruwat” ibunya yang bernama Dewi Winata. (d) Prasasti tahun 1379 Saka dipunggung sapi yakni kata “pawitra” yang berarti air suci (air pengruwatan).
Sumber : http://noenkcahyana.blogspot.com/2010/10/candi-sukuh.html

Air Terjun Parang Ijo


Informasi Wisata Air Terjun Parang Ijo
Lokasi Desa Girimulyo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah.
Tiket Rp.2.500,-
Waktu Buka 07.00 – 17.00
Fasilitas/ Obyek Wisata air terjun yang masih alami
Air Terjun Parang Ijo terletak di lereng Gunung Lawu dan memiliki ketinggian sekitar 50 m. Air terjun ini berjarak tempuh sekitar 20 menit dari komplek wisata candi Cetho. Bagi Anda yang kerap bergelut dengan kesibukan aktivitas kerja, tentu akan merasa jenuh. Tempat wisata ini cocok untuk anda kunjungi jika anda sedang butuh tempat refresing. Selain masih tergolong tempat wisata yang baru dibuka, hawanya sangat Uadeeeemmmm alias dingin. Air terjun setinggi 60 meter ini berada di ketinggian 1000m dpl dengan suhu ruangan mencapai 5 – 10 derajat celcius. Saking dingin dan banyaknya tumpahan air sehingga membuat tempat tersebut tampak hijau.

Sejarah Air Terjung Parang Ijo

Pada tahun 1942 di sebuah dusun, ada sebuah pohon tua yang sangat besar dan didominasi warna hijau. Pohon ini dianggap keramat karena tidak bisa ditebang. Keberadaan pohon itu tidak lama, banjir besar (dikenal dengan nama Baru Klinting oleh masyarakat sekitar) yang melanda daaerah tersebut mampu menumbangkan pohon tersebut dan membawanya bersama derasnya arus. Akan tetapi pohon tersebut tetap dapat berdiri tegak dan mendapat tempat baru, dimana secara kebetulan menempati diantara tebing (parang), sehingga mempermudah aliran air dari atas tebing menuju lembah melalui batangnya. Aliran air yang terus menerus membuat pohon semakin hijau dengan timbuhnya lumut-lumut.

Pada tahun 1982 banjir Baru Klinting kembali melanda daerah ini dan menerjang pohon diatara parang itu. Hilangnya pohon menyebabkan aliran air yang awalnya melalui batang pohon kini terjun ke bawah tanpa perantara membentuk air terjun yang dikenal dengan nama Parang Ijo yang berarti berwarna hijau diantara 2 tebing. Itulah cerita asal air terjun ini terbentuk, entah dongeng atau kenyataan silahkan anda kunjungi langsung untuk membuktikan.

Air Terjun Parang Ijo Berjarak sekitar 2 km dari pertigaan Nglorok. Dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi atau umum baik roda dua atau empat dengan kondisi jalan cukup bagus. Dari pertigaan Nglorok ambil belokan ke kiri, ke arah Candi Cetho. Selanjutnya ikutin jalan hingga tiba di lokasi air terjun berada. Jalan menuju air terjun ini cukup sempit, sangat susah bila ada dua kendaraan berpapasan, berliku dan naik turun.

Peta dan Arah Air Terjun Parang Ijo

Bagi pengguna kendaraan umum dari kota Solo naik bis jurusan Tawangmangu atau Matesih dan turun di terminal Karang pandan. Lalu di terminal ini berganti dengan bis kecil berwarna biru dengan trayek Karang Pandan – Ngargoyoso – Kerjo, turun di pertigaan Nglorok. Perjalanan selanjutnya menempuh jalan beraspal sejauh sekitar 1,9 km hingga tiba di pos pemungutan restribusi, Perjalanan ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau naik ojek dengan tarif resmi dan terjangkau. Tidak jauh dari pos retibusi tersebut terdapat sebuah pertigaan yang kalau lurus menuju ke Air Terjun Jumog dan Candi Sukuh, sedangkan kalau belok kiri ke Candi Cetho dan Air Terjun Parang Ijo. Ambil belokan kiri dan terus ikuti hingga tiba di lokasi air terjun berada.

Akomodasi dan Fasilitas Air Terjun Parang Ijo

Selain air terjun, di kompleks wisata ini juga bisa main flying fox, tarifnya Rp. 10.000/orang, ada juga gardu pandang dan sarana bermain untuk anak-anak. serta disini juga ada kolam renangnya, tapi dangkal, buat anak-anak sepertinya, kalo mau berenang bayar Rp. 2.000. Karena tidak ada hotel dekat tempat ini, bila anda ingin menginap di dekat kawasan wisata ini, di jalanan desa sepanjang sisi kiri-kanan banyak rumah penduduk yang dijadikan penginapan.

Album Foto:




















Sumber:
Pribadi
wisatapanorama.com
karanganyarkab.go.id

Astana Mangadeg


Astana Mangadeg adalah makam yang digunakan untuk para keluarga Mangkunegaran. Tempat ini berdiri pada ketinggian 750 meter diatas permukaan laut. Disana juga digunakan sebagai tempat peristirahatan terakhir dari Pangeran Sambernyawa atau Mangkunegara I, Mangkunegara II, dan Mangkunegara III. Didalam komplek Mangadeg ini juga ada keluarga dan para pejuang yang ikut serta dalam melawan Kasultanan Mataram dan VOC yang diakhiri dengan digelarnya Perjanjian Salatiga pada tahun 1758.

Tempatnya sangat tenang, asri dan sejuk karena berada di kaki Gunung Lawu, tepatnya di sebelah timur Kecamatan Matesih. Konon, disini dulu juga sering digunakan oleh Pangeran Sambernyawa untuk bersemedi, menenangkan dan menjernihkan pikiran atas permasalahan yang terjadi.

Astana Mangadeg juga dapat dikunjungi oleh peziarah umum. Biasanya, mereka melakukan meditasi dan mendoakan leluhur yang dimakamkan disana. Astana Mangadeg memang dibangun untuk keluarga dan juga keturunan raja-raja Mangkunegara dengan lokasi yang berdekatan dengan Astana Giribangun dan Astana Girilayu.

Menurut cerita, pada saat pembangunan Astana Giribangun sebagai tempat keluarga Alm Presiden Soeharto ini dibuat, lokasi bukit tersebut harus diturunkan dengan menggunakan linggis dan cangkul agar ketinggian Astana Giribangun tidak menyamai Astana Mangadeg walaupun jaraknya hanya sekitar 500 meter. Hal ini merupakan aturan tidak tertulis yang dikeluarkan oleh Mangkunegaran yang tidak mengijinkan ada bangunan lain yang posisinya lebih tinggi dari Astana Mangadeg.

Warga yang tinggal disana pun menyetujui karena Astana Mangadeg mempunyai tingkat kekeramatan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan Astana Giribangun. Hal ini karena orang yang dimakamkan di Astana Mangadeg mempunyai darah bangsawan khususnya dari keraton dan dianggap lebih memiliki ilmu kesaktian tinggi.

Maka, tidaklah mengherankan bila pada hari-hari tertentu, Astana Mangadeg dikunjungi oleh banyak orang. Mereka datang memburu ‘wangsit’ atau petunjuk serta mencari benda pusaka keraton yang konon banyak tersebar di kompleks Astana Mangadeg.

Dan jika sedang muncul, pusaka itu pun terlihat bercahaya dan terbang ke angkasa. Lalu, bagaiamana caranya untuk dapat berziarah ke makam ini? Nah, bagi anda yang ingin berziarah ke Astana Mangadeg, anda perlu mendaftar dulu di kantor pengelola yang berada di pintu masuk di sekitar tempat parkir.

Disana, anda diharuskan menulis nama, alamat dan pekerjaan anda. Biarpun tidak ada tiket masuk yang diterapkan disini, namun disana ada kotak amal yang dapat anda gunakan untuk menyumbang ala kadarnya. Setelah itu, anda akan mendapatkan surat ijin yang nanti dapat digunakan untuk bisa masuk ke kompleks pemakaman.

Surat ijin tersebut pun tergolong ampuh karena setelah itu, anda akan diperbolehkan naik ke atas bukit. Jalan yang harus ditempuh pun menanjak dan berkelok-kelok. Bila anda perhatikan, di kanan kiri jalan anda dapat menyaksikan pagar pembatas atau pegangan dengan ukiran arca yang telah penuh ditumbuhi oleh lumut.

Di tengah perjalanan, anda akan mendapati sebuah tugu yang dijadikan sebagai penanda makam Astana Mangadeg. Selain itu, disebelah tugu tersebut juga disediakan ruangan yang sering digunakan untuk tempat bermeditasi. Sedangkan dibelakang ruangan tersebut, anda bisa mendapatkan akses masuk menuju ke Astana Giribangun.

Nah, anda pun bisa melanjutkan perjalanan lagi ke Astana Mangadeg yang masih sekitar 200 meter diatas sana. Sebelum anda masuk ke kompleks, anda akan diminta untuk menyerahkan kartu ijin yang tadi anda peroleh di pintu masuk pertama. Untuk pengunjung wanita, mereka diwajibkan untuk memakai kain jarik, sedangkan untuk para pria, mereka diperbolehkan menggunakan apa saja asalkan pakaian yang dikenakan sopan.

Setelah itu, anda pun dapat masuk ke kompleks Astana Mangadeg. Jika anda mencari makam Pangeran Sambernyawa, tempatnya ada disebelah kiri sendiri yang ditutupi dengan kain putih. Sedangkan diruangan yang lain, disebelah kirinya terdapat makam istri-istri beliau.

Jika anda perhatikan, disekitar makam utama juga dapat ditemui makam lain yang semua itu digolongkan menurut pangkat, kedekatan dengan keluarga keraton sampai pada abdi dalem. Sedangkan disekitar kompleks pemakaman Astana Mangadeg, anda juga bisa mendapati tempat untuk istirahat setelah melakukan pendakian.

Dari sana, anda masih bisa menikmati pemandangan dengan view sangat indah khas pegunungan dengan udaranya yang masih segar dan sejuk.

Dan sebagai tempat yang dikeramatkan bagi sebagian besar orang Jawa, maka tidaklah mengherankan bila pada hari-hari tertentu seperti malam Jum’at Kliwon di bulan Suro, para pengunjung membludak. Mereka mulai berdatangan sejak pukul 16.30 WIB. Dan semakin malam, pengunjungnya pun akan semakin bertambah.

Mereka dapat berasal dari pulau Jawa dan bahkan sampai ke Mancanegara yang mempunyai darah Jawa. Mereka datang dengan tujuan untuk ‘ngalap berkah’ atau mencari berkah dengan cara berziarah ke makam-makam orang yang dikenal sakti.

Mereka pun rela untuk menginap di komplek pemakaman dan rajin untuk datang berziarah tiap malam Jum’at Kliwon. Ada harapan besar yang mereka tunggu seperti agar rejeki tetap lancar, usaha sukses, enteng jodoh, serta karir tetap cemerlang.

Karena tempatnya yang dekat dengan makam Astana Giribangun, maka pengunjung yang datang pun memiliki pilihan. Untuk langsung naik ke atas Astana Mangadeg, atau hanya mau sampai ke Astana Giribangun. Dan karena tempat ini termasuk tempat yang dianggap keramat, bila anda berniat untuk datang, jagalah sikap dan perilaku anda.

Selain itu, karena tempat ini merupakan tempat pemakaman dan jarang penjual makanan, mungkin lebih baik bila anda mengisi perut terlebih dahulu sebelum mendaki ke atas bukit. Tetapi, anda pun masih diperkenankan untuk membawa air minum. Selamat berziarah.

Banyak fenomena mistis membuktikan keberadaan Astana Mangadeg, komplek pemakaman para penguasa Istana Mangkunegaran, salah satu pecahan dinasti Mataram. Makam itu merupakan Raja Mangkunegoro III (sebutan jawa; Mangkunegoro III) keturunan Raja Mataram Panembahan Senopati selalu melindungi dan merestui makam anak cucu di bawahnya. Salah satu yang dimakamkan disini adalah Kanjeng Pangeran Adi Pati arya Sri Mangkunegara I. Pangeran Adi terkenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyowo. Tokoh kesohor raja Mangkunegaran dikenal sakti mandraguna dan selalu menjadi rujukan raja-raja Mataraman baik Surakartan (Solo) dan Ngayogyokarto Hadiningrat (Yogya).

Kejadian-kejadian mistis itu seolah-olah kedua raja dan sesepuh Mangkunegaran yang dimakamkan di sini di antaranya Kanjeng Pangeran Adi Pati Arya Sri Mangkunegara I, atau disebut Pangeran Samber Nyowo memberikan restu maupun memberikan perlindungan pada saat-saat tertentu dari kejahatan atau perbuatan tangan-tangan jahil. Beberapa peristiwa dan fenomena mistis aneh terjadi di antaranya saat makam Presiden Kedua Indonesia, HM Soeharto digali. Suasana pemakaman Soeharto di Astana Giribangun kala itu sedang redup, tak ada awan. Hanya angin yang berhembus pelan saat itu. Soeharto dimakamkan pada Minggu Wage, 27 Januari 2008 setelah Azan Asar sekitar pukul 15.30 WIB. Keluarga besar Soeharto dan sejumlah tokoh ternama baik dari dalam maupun luar negeri.

images2Sebelum penggalian, keluarga besar Soeharto melakukan upacara Bedah Bumi. Tujuannya adalah agar penggalian dapat berjalan lancar dan selamat. Upacara tersebut dipimpin oleh Begug Purnomosidi mantan Bupati Wonogiri. Upacara dimulai dengan menancapkan linggis ke tanah pemakaman sebanyak tiga kali. Yang pertama, tidak terjadi apapun dan begitu pula dengan yang kedua. Namun, kejadian yang membuat merinding bulu kuduk terjadi saat linggis mengoyak tanah untuk kali ketiganya. “Tiba-tiba, duar! Terdengar suara ledakan yang sangat keras bergema di atas kepala kami,” kata juru kunci makam keluarga Soeharto di Astana Giribangun Soekirno. Para penggali makam dan orang-orang di sekitarnya sontak kaget mendengar ledakan itu. Mereka saling berpandangan. Bingung. Mencoba mereka-reka dan mencari-cari dari mana asal suara menggelegar itu.“Bukan bunyi petir, lebih mirip suara bom besar meledak di atas cungkup Astana Giribangun,”  kata Sukirno.

Anehnya, tak ada yang porak poranda. Tak ada benda yang bergeser karena suara ledakan itu. Terbesit di pikiran, mungkin itu suara ghaib. Semua yang ada di tempat itu terdiam, terpaku. Lalu, suara Begug Purnomo Sidi memecah keheningan. “Bumi mengisyaratkan penerimaan terhadap jenazah beliau,” tutur Sukirno, menirukan kalimat Bupati Wonogiri. Tidak hanya itu yang dialami sang juru kunci Astanagiribangun Sukirno. Beberapa bulan sebelum kematian Soeharto, terjadi longsor mendadak di bawah Perbukitan Astana Giribangun. Selain pengalaman menggali makam Soeharto, pria kelahiran Karanganyar tahun 1953 itu juga masih ingat ketegangan terjadi di Astana Giribangun, tahun 1998, saat kekuasaan Soeharto berakhir. Masa di mana-mana menghujat dan ingin mengadili Soeharto beserta keluarganya. Terjadi pula perebutan tanah-tanah serta pengerusakan aset negara yang saat itu dikuasai Soeharto di beberapa daerah. Hingga merembet ada kabar, makam keluarga Soeharto itu bakal diserang dan akan dirusak oleh ribuan masa. “Bersama warga saya memasang drum-drum di tengah jalan. Di depan pertigaan di depan SD Ibu Tien yang terletak di tanjakan menjelang Astana. Kami memalang puluhan batang bambu ori berduri. Siapa yang melintas dengan berjalan kaki sekalipun, tak bakal gampang menembusnya,” tutur Sukirno.

Malam-malam pun terasa panjang. Orang-orang kampung dan desa secara bersama-sama dengan pengurus dan berjaga di sekitar makam. Dari pesawat komunikasi HT terdengar sandi, 1.000 “kuda lumping” yang artinya ada seribu pengedara sepeda motor menuju dan bergerak mengarah ke Astana. Atau lima ratus “gerobak” atau 500 pengendara mobil juga. “Anehnya tak pernah sekalipun mereka yang hendak melempari Astana dan merusak bangunan makam di sini itu benar-benar tiba,”  kata Sukirno.  Sukirno berkeyakinan arwah para leluhur raja Mangkunegaran datang dan melindungi sebab arwah leluhur bagi orang Jawa diyakini masih bersemayam dan jika dalam situasi darurat akan muncul dan melakukan perlindungan. Apalagi leluhur mereka yaitu Kanjeng Pangeran Adi Pati arya Sri Mangkunegara I, yang terkenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyowo yang memiliki Aji Panglimunan itu
Kumpulan Foto Astana Mengadeg:








Sumber artikel dan foto:
purubaya.blogspot.com
jalan2.com
swetadwipa.blogspot.com
wongalus.wordpress.com